Pemulung Yang Mujur

Pemulung yang mujur

Pemulung yang mujur | Ada sebuah kerajaan kecil yang diperintahkan oleh seorang yang raja yang arif dan berwibawa. Seluruh rakyat hidup dengan tenang dan damai.

Suatu hari kerajaan digemparkan sebuah pengumuman menarik. Pengumuman itu ditulis dengan huruf besar pada sebuah papan tulis di dekat pasar. Isi pengumuman itu, “Telah hilang sebuah pundi berisi tiga ribu keping uang emas milik seorang saudagar kaya yang baru kembali dari bepergian. Barang siapa mengembalikan uang itu, akan mendapat separuh isi pundi tersebut.”

Hadiah seribu lima ratus keping uang emas itu menggemparkan seluruh rakyat. Banyak yang ingin menemukan pundi itu, tetapi pundi itu entah ada dimana seolah lenyap ditelan bumi. Hari demi hari berlalu, pundi itu tetap tak ditemukan.

Suatu hari, seorang pemulung mengorek tumpukan sampah di dekat pelabuhan dengan tongkatnya. Tiba-tiba, ujung tongkat yang bergigi dua itu menyentuh sesuatu. Ketika si pemulung mengangkat benda itu, ia tercengang.

“Pundi si saudagar kaya,” pekiknya kegirangan. “pundi ini masih terikat erat, pasti isinya masih utuh. Aku mujur sekali.”

Si pemulung berlari ke kota sambil berteriak gembira. Orang-orang pun tertarik dan mengikutinya.

“Hendak kau apakan pundi uang emas itu?” tanya salah seorang diantara mereka. “Kukembalikan kepada saudagar itu,” sahut si pemulung sambil terus berlari. “Hey kembalilah, papan pengumuman itu sudah diturunkan, berarti kau boleh memiliki uang emas itu,” seru yang lain.

Namun, si pemulung terus tidak saja berlari. Kedatangan si pemulung sambil mendekap pundi berisi uang emas itu disambut gembira oleh pemiliknya. Saudagar itu menghitung pundi itu. Masih lengkap. Tiga ribu keping.

Tiba-tiba timbul niat jahat di hati si saudagar. Ia merasa sayang harus menyerahkan sebesar seribu lima ratus keping emas kepada si Pemulung. Katanya kemudian, “Hm, sebelum kita berbicara soal hadiah, aku ingin bertanya kepadamu, dimana keping emas yang bertatahkan berlian disekelilingnya? Benda itu akan kuberikan kepada istriku.”

Baca juga cerita : Lutung Kasarung dan Putri Purbasari

“Keping emas yang mana?” tanya si pemulung heran. “Saya tidak membuka pundi itu, Tuan,” lanjutnya. “Mustahil,” bentak si saudagar. “Pasti kau menyembunyikannya. Karena harga permata itu lebih tinggi dari hadiah yang akan kau terima.”

“Sungguh, Tuan. Saya tidak mengetahui isi pundi itu,” ucap si pemulung dengan sungguh-sungguh. “Bohong!” seru  si saudagar dengan marah.” Pergi kau dari sini, atau kupanggil pengawal?” ancamnya. “Tetapi bagaimana dengan hadiah yang tua janjikan itu?” tanya si pemulung. “Sesudah kau mencuri keping emas bertatah berlian, kau masih menuntut hadiah? Huh, pergi sana!” usir si saudagar.

Khawatir dikeroyok pelayan-pelayan si saudagar, si pemulung pun keluar. Ia segera disambut pengiringnya dengan berbagai pertanyaan. Tatkala mendengar cerita si pemulung, orang-orang itu pun geram kepada si saudagar yang curang. Mereka lalu beramai-ramai menghadap raja untuk mengadukan peristiwa itu.

“Benar engkau tidak membuka pundi itu?” tanya raja kepada si pemulung yang malang. “Benar, Tuanku Raja,” jawab si pemulung. “Baiklah aku akan menangani perkaramu. Menghadaplah ke hakim istana tiga hari lagi,” perintah Raja.

Pada hari yang ditentukan, si pemulung masuk ke ruang pengadilan, diiringi banyak orang. Di sana telah menanti si saudagar kaya dan seluruh keluarganya. Beberapa waktu kemudian Raja dan hakim istana pun tiba. Sidang pun segera dimulai.

Baca juga : Gajah yang baik hati

“Hai saudagar,” kata hakim istana. “Apakah kau membawa pundi berisi uang emas itu?

“Benar, Tuanku. Inilah benda itu,”sembah si saudagar sambil menyerahkan pundinya.

“Apakah isinya masih genap tiga ribu keping?”

“Masih, Tuanku.”

“Kenapa kau tidak menyerahkan hadiah yang kau janjikan itu?”

“Karena,” sembah si saudagar,” di dalam pundi itu tersimpan pula satu keping emas berlian, milik istri hamba. Perhiasan itu sangat mahal, Tuanku. Sekarang benda itu hilang,” jawab saudagar.

“Hmm, jadi kau berkesimpulan si pemulung mengambilnya?” tanya Raja.

“Benar, Baginda,” sembah si saudagar, “Bukankah mungkin jika pundi itu ditemukan utuh tetapi isinya berkurang?”

“Kau benar,” kata Raja sambil terseyum, “Hanya sayang, orang miskin itu tidak mengakui perbuatannya,” lanjut Raja.

“Tentu saja, Baginda,” kata si saudagar penuh semangat, “Tak ada pencuri yang mau mengakui kejahatannya.”

“Kalau begitu,” kata Raja pula, “Mari kita dengarkan keputusan hakim istana.”

Sesaat ruang sidang menjadi riuh, tetapi segera tenang kembali setelah hakim istana mengetuk palu. Dengan tenang dan jelas, ia berkata, “setelah mendengar pengaduan si pemulung dan meneliti penjelasan  saudagar, serta atas nasihat dan petunjuk Raja, maka aku memutuskan bahwa pundi berisi tiga ribu keping uang emas ini sepenuhnya milik si pemulung.” rakyat yang hadir dalam ruangan pengadilan itu bertepuk tangan dan bersorak sorai.

Si saudagar tamak sangat terkejut mendengar keputusan itu. Dengan suara lantang ia berseru,”Tuan Hakim, keputusan macam apa ini? Bagaimana Tuan Hakim memenangkan seorang pencuri?”

Hakim istana mengetuk palunya dan ruang sidang pun kembali tenang. Katanya kemudian, “Bukankah pundi milikmu berisi juga sekeping emas berhias berlian?”

“Ya,Tuan Hakim.” Jadi pundi ini bukan milikmu. Kelak, apabila datang seseorang menyerahkan pundimu, aku akan memanggilmu.”

Mendengar kata-kata Hakim istana, si saudagar yang tamak menjatuhkan dirinya di hadapan Raja. Ia menangis sambil menyembah, lalu katanya,”Baginda, ampunilah hamba. Hambalah yang bersalah, tak menepati janji hamba. Ampunilah hamba.”

“Hai, orang muda,” titah Raja kepada si pemulung, “Apakah kau rela mengampuni orang kaya ini? Dia telah menuduhmu sebagai pencuri dan penipu?”

“Hamba akan memaafkannya, Tuanku,” sembah si pemulung.

“Berarti, kau hanya mendapatkan separuh dari isi pundi ini.”

“Itu pun sudah terlalu banyak bagi hamba, Tuanku.”

“Bagus,”puji Raja. “Ternyata kau seorang pemuda yang berbudi mulia.” Lalu Raja berkata kepada si saudagar, ‘Nah, karena pemuda itu memaafkanmu, maka aku pun tidak akan menghukummu. Sejak ini, jangan kau ingkar janji lagi.”

“Terima kasih, Tuanku,” sembah si saudagar dengan penuh haru. Hamba berjanji akan mengajak anak muda itu berusaha bersama dengan hamba, sampai ia dapat berdikari.”

Kembali rakyat bertepuk tangan, memuji kebijaksanaan raja dan keluhuran si pemulung. Mereka yakin, hari depan anak muda itu pasti akan jauh lebih mujur.

Demikianlah kisah Pemulung yang mujur. Pesan apa yang teman-teman dapatkan dari kisah ini ? Yuk silahkan dibagikan melalui kolom komentar di bawah ini.

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.