Semut dan Beruang

Semut dan Beruang

Semut dan Beruang | Pada suatu hari, Beri si beruang melihat ke mata air dan mengeluh, “Sepertinya air di mata air ini semakin sedikit saja. Pasti bangsa semut terlalu banyak mengambil air.”

Beri lalu menundukkan kepala, melihat ke tanah dengan teliti. Ah, ia melihat seekor semut hitam berjalan membawa guci mungil di pundak.

“Berhenti, semut,” teriaknya. “Aku tak akan membiarkanmu mengambil air di sumber airku lagi. Kamu sudah terlalu banyak mengambil air. Berhenti atau kucakar kau,” ancam beri beruang.

Semut hitam kecil itu tidak memperhatikan teriakan Beri. Ia merangkak ke bawah beberapa helai daun kering. Ia terus berjalan menuju sumber mata air. Beri mencakar dan mengendus daun-daun sambil berteriak, “Tak ada gunanya sembunyi. Aku bisa menemukanmu.”

Baca juga cerita : Lutung Kasarung dan Purbasari

Semut hitam berteriak dari arah belakang Beri, “Kenapa kamu pelit sekali? Bayi-bayi semut di lembah semut sangat kehausan. Air di mata air ini kan masih banyak sekali. Bahkan masih cukup untuk seribu rusa.”

“Dengar kataku,” geram Beri sambil membalik tubuhnya. “Aku tak akan memberikanmu air lagi. Semua semut dilarang mengambil air di sini lagi.”

“Memangnya apa yang kami lakukan sampai kamu sangat marah pada bangsa kami?” tanya semut hitam. Beri semakin marah karena semut hitam bertanya terus.

“Aku bosan melihat kalian. Kerja kalian hanya mondar-mandir mengambil makanan. Mengambil madu, mengambil buah beri, dan membangun sarang di seluruh lembah. Kalian juga minum dari mata airku,” omel Beri.

Semut hitam terdiam sebentar. Lalu katanya, “Apa boleh buat, kalau kau sudah memutuskan begitu. Tapi aku tetap akan mengambil air untuk bayi-bayi semut di mata air ini.”

Beri beruang sangat marah. Namun semut hitam menghilang lagi ke bawah daun-daun kering. Beri mencarinya, namun ia tidak dapat melihat apa-apa di rumput. Akhirnya ia kembali dengan jengkel ke sarangnya di dekat pohon oak.

Baca juga cerita : Pemulung yang Mujur

Semut-semut yang haus menunggu di lembah semut. setelah menunggu cukup lama, akhirnya mereka berbaris menuju mata air. Salah satu semut melihat guci air milik semut hitam yang tergeletak di jalan.

“Pasti semut hitam mendapat masalah. Lihatlah, ini gucinya. tapi dia tidak nampak.” Mereka memungut guci itu dan terus berjalan.

Saat itu kelinci mengintip dari balik semak. Kelinci itu mengangkat telinganya dan berbisik,”Jangan pergi kemata air itu. Pulanglah, kalian dalam bahaya. Beri beruang sedang marah. Ia bilang, air di mata airnya berkurang. Ia akan mencakar semut-semut yang berani mengambil air dari mata airnya.”

Akan tetapi semut semut itu tidak takut. “Mana beruang itu sekarang?”tanya mereka. “Ia sedang di rumahnya beristirahat,” jawab kelinci.

Semut-semut itu berbaris seperti tali sepatu di rumput. Mereka melihat seekor tupai duduk di pohon dan bertanya, “Apa kami sedang berjalan tepat ke sarang beruang?”

“Ya, ya, ini memang jalan kearah sarangnya,” jawab tupai. “Tapi sebaiknya kalian kembali kerumah. Beri beruang dari tadi berteriak terus. Katanya, kalau kalian mengambil air dari mata airnya, ia akan mencakar kalian.”Akan tetapi semut-semut itu tak mau kembali. Mereka terus berbaris seperti tali sepatu di tanah. Hari hampir malam ketika mereka tiba di depan pohon oak tua.

Mereka melihat sekeliling, dan menemukan sebuah retakan di tanah. Mereka masuk ke dalamnya, lalu mulai menggali sebuah lubang.

“Apa yang kalian lakukan? kenapa kalian menggali?” tanya tikus tanah yang merasa tidurnya terganggu. “Kami ingin menangkap Beri beruang. Kami sedang membuat jebakan untuknya,” kata┬ápara semut.

“Bahaya sekal,” seru tikus tanah.”Dia pasti sudah menangkap semut hitam saudara kami. Ia juga berniat menakar kami, hanya karena kami mengambil air dari mata air.”

“Aku akan menolong kalian menggali dibawah sarangnya. Aku pernah hampir tertangkap olehnya dulu.”seharian itu, para semut dan tikus tanah menggali lubang di sarang Beri. Mereka terus menggali selama 10 hari. Beri beruag sama sekali tidak curiga.

Baca juga cerita : Gajah yang baik hati

Suatu malam di hari yang ke sepuluh, Beri beruang kembali ke sarangnya dengan hati gembira. Ia berhenti di depan rumahnya di pohon oak dan berkata pada dirinya, “Aku sudah makan dan minum sampai kenyang. Satu-Satunya Yang membuatku jengkel adalah semut-semut itu. Mereka masih berani mengambil air dari mata airku. Besok akan ku hancurkan lembah semut itu. Akan ku cakar mereka dengan cakarku seperti ini.” Beri beruang melakukan gerakan mencakar ke segala arah. Ia menghentakkan kakinya ke lantai sarangnya dan BRRUUKK.

Lantai sarangnya jebol. Beri beruang jatuh ke lubang di bawah sarangnya. Lubang yang telah digalipara semut dan tikus tanah. Ia harus terus tinggal di lubang itu, kecuali ada penjaga hutan yang menemukannya. Semut-semut akhirnya hidup damai di lembah semut. Saat itu Semut hitam saudara mereka juga sudah kebal ke rumah. Ternyata ia hanya terpeleset dijalan. Jadi tidak ada yang merusak kebahagiaan mereka sekarang. Para semut dengan bebas pergi mencari makan dan minum di hutan.

Demikianlah cerita si Semut dan Beruang. Untuk cerita lainnya, bisa baca juga di sini

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.