Terjadinya Danau Toba

Terjadinya Danau Toba

Terjadinya Danau Toba | Di Sumatera utara terdapat daerah pegunungan yang kurang subur. Di daerah tersebut hiduplah seorang petani miskin. Setiap hari menggarap ladangnya. Jika sudah lelah mencangkul, dia pergi kehutan untuk mencari kayu bakar. Selain untuk kebutuhan sendiri, kayu bakar itu dijual ke pasar. Hasil penjualan kayu bakar dibelanjakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Pada suatu hari, petani yang masih bujangan itu malas pergi ke ladang atau ke hutan. Ia mengeluh karena ia sudah bekerja keras namun tak kunjung menjadi kaya. Hari itu ia lebih memilih memancing. Si petani pun pergi ke sungai di dekat ladangnya. Ia duduk di atas sebuah batu besar. Ia melamun . “Alangkah enaknya kalau aku jadi orang kaya, punya istri cantik dan banyak harta”, gumamnya.

Petani itu tiba-tiba terjaga dari lamunannya. Pancingnya ditarik ikan dengan kuat. Dia sentakkan pancingnya, terlihat seekor ikan besar menggelepar. Sisik putihnya bagai mutiara yang gemerlapan memantulkan sinar matahari yang menerapnya.

“Petani sahabatku, janganlah kau bunuh aku,” ucap si ikan.

“Ha…! Ikan bisa bicara? Siapa kau sebenarnya?” tanya petani itu dengan gagap.

“Jangan tanyakan siapa aku. Turuti saja kataku. Bawaku ke ladangmu dan peliharalah aku,” perintah si ikan.

Petani pun ikan itu ke ladangnya. Di ladangnya ada mata air yang membentuk kolam kecil. Ke dalam kolam itulah ikan tersebut dilepaskan. Sebelum petani pulang, si ikan berpesan “sahabatku, kau boleh menengok aku setiap hari. syaratnya, tidak boleh waktu malam hari.”

Selanjutnya peani itu pulang, tapi pikirannya terus melayang kepada ikan ajaib di ladangnya. Malam hari pun tiba, dia tidak dapat tidur. Menjelang subuh, si petani tidak kuasa menahan hatinya untuk pergi ke ladang. Sesampai di kolam, petani itu tidak menemukan ikan ajaibnya. Tiba-tiba terdengar sapaan halus. “Sahabatku, kau tidak akan menemukan lagi ikan itu. Akulah ikan itu …,” ucap seorang putri cantik jelita. Si petani heran ikan ajaibnya telah menjadi seorang putri.

“Ajaklah aku pulang. Jadikan aku istrimu, maka hidupmu akan berkecukupan,” ucap putri jelita.

” Baik … baik,” jawab petani itu senang. “Tapi ada satu syarat. Kau tidak boleh menyebut asal usulku,” ucap sang putri. “Akun terima syaratmu,” si petani mengiyakan.

Petani dan putri jelita itu akhirnya menikah. Mereka hidup bahagia dan berkecukupan. Mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang tampan. Anak itu tumbuh sehat dan sekarang telah berusia sepuluh tahun, dia sudah dapat membantu pekerjaan orangtuanya.

Suatu hari, anak itu mendapat tugas mengantar makanan siang untuk ayahnya di ladang. Di tengah jalan, dia bertemu dengan teman-temannya. Merekapun asyik bermain. Tanpa sadar, anak itu lupa waktu dan tugasnya. Makanan yang dibawa, dia makan bersama kawannya. Ia baru sadar ketika hari sudah sore.

Cepat-cepat anak itu lari ke ladang. Dia menceritakan apa yang terjadi. Ayahnya yang kelaparan, sangat marah. Dia memarahi anaknya sebagai anak ikan yang tidak memiliki adat. “Pergilah! ayah tak mau melihat dan menyebutmu lagi,” ucap si ayah penuh amarah.

Baca juga : Lutung Kasarung dan Purbasari

Anak itu lari ketakutan. Ia pulang sambil menangis mengadukan perkataan ayahnya kepada ibunya. Ibunya cepat menyadari, kehidupannya akan segera berubah. Cepat ia memberi peringatan kepada anaknya. “Anakku, hentikan tangismu. Sebentar lagi akan datang hujan badai, tempat ini akan jadi lautan. Selamatkan dirimu dan larilah ke gunung. Kamu anak laki-laki, tempuhlah hidupmu sendiri,” pesan sang ibu.

Anak itu cepat lari. Hujan badai dan halilintar menyambar. Tempat itu cepat tenggelam, air semakin banyak menggenang. Si ibu yang jelita itu berubah kembali menjadi ikan. Genangan air yang semakin luas dan dalam itu akhirnya menjadi sebuah danau yang kita kenal sebagai danau toba. Setiap malam bulan purnama, ikan itu menjadi putri jelita. Puteri jelita yang selalu merindukan putranya. Putri jelita yang selalu menyesali kekasaran suaminya.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.